• Minggu, 3 Juli 2022

Faisal Basri Sentil Pembiayaan Proyek Kereta Cepat, 85 Persen Didanai China

- Rabu, 3 November 2021 | 15:31 WIB
Warga melintas di dekat proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) di Tegalluar, Kabupaten Bandung, Senin 11 Oktober 2021. Presiden Republik Indonesia Joko Wododo atau Jokowi mengalokasikan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk proyek KCJB yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 93 tahun 2021 atas perubahan Perpres Nomor 107 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Cepat Antara Jakarta dan Bandung.  (Ayobandung.com/Kavin Faza)
Warga melintas di dekat proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) di Tegalluar, Kabupaten Bandung, Senin 11 Oktober 2021. Presiden Republik Indonesia Joko Wododo atau Jokowi mengalokasikan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk proyek KCJB yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 93 tahun 2021 atas perubahan Perpres Nomor 107 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Cepat Antara Jakarta dan Bandung. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

PENJEDAR - Faisal Basri membedah struktur pembiayaan proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB).

Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung mengalami pembengkakan nilai investasi. Proyek yang awalnya bernilai Rp 86,5 triliun menjadi Rp 114,2 triliun.

Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2021 mengizinkan proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui penyertaan modal negara kepada BUMN yang terlibat.

Faisal Basri menunjukkan data yang membeberkan PT KAI sebagai BUMN yang paling banyak disuntikkan dana APBN untuk proyek itu.

"PT KAI, dari total pembiayaan, (disuntikkan dana) 5,7 persen. Tapi, 5,7 persen ini Rp6 triliun sendiri," ujar Faisal Basri dalam webinar yang ditayangkan kanal Youtube Universitas Paramadina pada 2 November 2021.

Baca Juga: Mardhani Ali Sera : Bisnis PCR Harus Diungkap sampai Ke Akar Akarnya

Secara keseluruhan, 85 % pembiayaan proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung berasal dari China.

Rinciannya, 75 persen pembiayaan berasal dari pinjaman China Development Bank dan 10 persen dari Konsorsium China.

Sedangkan, Indonesia membiayai lewat Ekuitas KCIC sebesar 25 persen dan Konsorsium Indonesia sebesar 15 persen.

"Pertanyaan kita, apakah kita ini tidak mudah didikte oleh China? Karena China tahu, lah, ya, BUMN-BUMN kita seperti apa," kata Faisal Basri.

Halaman:

Editor: Muhammad Abdul Qoni Akmaluddin

Sumber: Pikiran Rakyat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Erling Haaland Akan Jadi Pemain Termahal Di Dunia

Minggu, 28 November 2021 | 21:38 WIB

Ralf Rangnick Mata Duitan – Nikolai Naumov

Jumat, 26 November 2021 | 17:14 WIB

Biden dan Erdogan Bahas HAM dan Jet F-16 di G20 Roma

Senin, 1 November 2021 | 15:06 WIB

Terpopuler

X