• Sabtu, 29 Januari 2022

Tiongkok dan Rusia Menghidupkan Kembali Wacana Penghapusan Sanksi PBB terhadap Korea Utara

- Rabu, 3 November 2021 | 09:55 WIB
DK PBB terpaksa menunda sidang terkait Israel-Palestina setelah Amerika memboikot (dok, tribunnews.com)
DK PBB terpaksa menunda sidang terkait Israel-Palestina setelah Amerika memboikot (dok, tribunnews.com)

PENJEDAR - China dan Rusia kembali menekan Dewan Keamanan PBB (DK PBB) untuk mengurangi sanksi terhadap Korea Utara (Korut) dengan menghidupkan kembali usaha yang telah dilakukan pada 2019 lalu untuk menghapus larangan ekspor patung-patung, panganan laut, dan tekstil dari Korut dan memperluasnya untuk memasukkan penghapusan larangan atas impor olahan minyak bumi.

Dalam resolusi draf yang telah direvisi dan telah dilihat oleh Reuters pada hari Senin, China dan Rusia menginginkan 15 anggota DK menghapus sanksi-sanksi tersebut "dengan maksud meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat" di negeri tersebut.

Korut telah berada dalam sanksi PBB sejak 2006 karena program nuklir dan misil balistiknya.

Baca Juga: Iran Akan Bekerjasama dengan Dunia Islam Mengembangkan Nuklir Demi Kesejahteraan Umat

Draf resolusi ini juga memasukkan langkah-langkah lain yang pertama kali dikemukakan oleh China dan Rusia hampir dua tahun lalu, yaitu penghapusan larangan bagi pekerja Korut untuk bekerja di luar negeri dan mengecualikan proyek rel kereta dan jalan raya lintas Korea dari sanksi.

Beberapa diplomat PBB, yang berbicara dengan syarat identitasnya dirahasiakan, mengatakan bahwa draf resolusi yang telah direvisi ini tidak akan dapat banyak dukungan. Pada 2019 lalu Rusia dan China menggelar dua ronde pembicaraan informal untuk membahas draf resolusi ini, namun tidak pernah secara resmi menempatkannya untuk dilakukan pemungutan suara.

Para diplomat tersebut juga mengatakan pada hari Senin bahwa China dan Rusia belum menjadwalkan pembicaraan apapun mengenai draf resolusi baru mereka ini. Sebuah resolusi membutuhkan sembilan suara dukungan dan tanpa veto dari Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Rusia dan China untuk bisa diluluskan.

Baca Juga: Mesir Akhir Darurat di Negaranya Setelah 4 Tahun

Misi Rusia dan China di PBB tidak segera merespons permintaan tanggapan terhadap teks baru tersebut yang menurut para diplomat telah beredar diantara anggota dewan sejak hari Jumat.

"Adalah merupakan keinginan China selalu bahwa kita harus juga menangani dimensi kemanusiaan yang disebabkan oleh sanksi DK PBB," Duta China untuk PBB Zhang Jun mengatakan pada bulan lalu, dan menambahkan bahwa resolusi 2019 "masih bisa dihidupkan kembali."*** 

Halaman:

Editor: Muhammad Abdul Qoni Akmaluddin

Sumber: TRT World

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Erling Haaland Akan Jadi Pemain Termahal Di Dunia

Minggu, 28 November 2021 | 21:38 WIB

Ralf Rangnick Mata Duitan – Nikolai Naumov

Jumat, 26 November 2021 | 17:14 WIB

Biden dan Erdogan Bahas HAM dan Jet F-16 di G20 Roma

Senin, 1 November 2021 | 15:06 WIB

Terpopuler

X